"Aku peduli meski tanganku nggak bisa menjangkaumu hari ini." Mereka tidak berbagi ruang, tapi mereka berbagi , dan itu sudah cukup. 4. "Cinta yang Tumbuh Diam-Diam" (Tentang Sahabat)
Mereka berdiri di peron seolah waktu bisa disuap dengan tatapan mata. Tidak ada janji muluk, hanya jempol yang mengusap punggung tangan. Saat peluit kereta berbunyi, ia hanya membisikkan satu hal: "Jangan jadi asing ya, meski kita nggak lagi sejalan."
He opened it anyway. Inside was a single sentence: "I choose you again. In every lifetime."